Jindro Ayuningrat
Ayo moco supayaning urip ana urupe
ICC
Rabu, 21 Oktober 2015
PEMBINAAN RUTIN PANTI ASUHAN NURUL HUSNA
Ahad, 27 September 2015 M/14 Dzulhijjah 1436 H Pkl. 08.00-12.00 telah
dilaksanakan acara Bina Asuh Inklusi PA NURUL HUSNA utk anak SMP &
SMA dgn pemateri Drs. Abdul Ghafur
Kamis, 09 April 2015
Aksi kritisi BBM ala JOKOWI oleh Gerakan Mahasiswa dan pelajar (GEMPAR) Metro Lampung
KangkungPOST.com- ratusan mahasiswa dan pelajar yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa dan pelajar (GEMPAR) kenaikan harga BBM di Metro Lampung menggelar aksi di tugu pena sebelah timur kantor WALKOT kota Metrro.
Sebelum memulai aksinya, sekitar pukul 15.30 WIB, mahasiswa berkumpul di depan kampus Universitas Muhammadiyah Metro. Kemudian mereka menuju Taman merdeka Kota Metro yang berjarak sekitar 1 kilo meter dari kampus UMM. Dalam orasinya, koordinator GEMPAR BBM, Andi saputra mengemukakan
kenaikan harga BBM dari Rp 6.900 menjadi Rp 7.400 membuat warga kesulitan.
kenaikan harga BBM dari Rp 6.900 menjadi Rp 7.400 membuat warga kesulitan.
"Kenaikan BBM merupakan ekses kebijakan pemerintah yang memberlakukan Masterplan Percepatan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang merupakan proyek ambisius negara, investor dan kekuatan kapitalis dunia untuk mengeruk kekayaan alam dan tenaga kerja Indonesia," katanya di tengah aksi berlangsung, Selasa (31/3).
Dalam aksi ini, GEMPAR BBM menuntut kepada pemerintah Jokowi-JK untuk menurunkan harga BBM, menghentikan proyek MP3EI dan melaksanakan reforma agraria.
Sementara itu, humas aksi, Ilham azzam mengemukakan aksi yang dilakukan di tengah tugu pena ini ditujukan kepada masyarakat yang selama ini terlena dengan kepemimpinan pemerintahan Jokowi-JK.
"(aksi) Ini merupakan usaha untuk mengedukasi masyarakat agar bersama mengkritisi kebijakan pemerintah yang menaikkan harga BBM. Langkah kenaikan ini merupakan sikap yang tidak bijak di saat masyarakat makin tercekik," paparnya
.
.
Senin, 06 April 2015
Al-qur'an membahas teknologi
Al-QUR’AN DAN TEKNOLOGI
ALQUR’AN DAN TEKNOLOGI
Al Qur’an da
n Ilmu Pengetahuan Teknologi Posted by Phenefendi on 22:10 Pandangan Al-Qur’an tentang ilmu pengetahuan dan teknologi
dapat diketahui prinsip –prinsipnya dengan menganalisis wahyu pertama
yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW. Bacalah dengan ( menyebut ) nama
Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal
darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang paling pemurah, Yang mengajar (
manusia ) dengan perantaraan Kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa
yang tidak di ketahuinya. Iqra terambil dari akar kata yang berarti “
menghimpun “, dari menghimpun lahir aneka ragam makna, seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri sesuatu, dan membaca baik tertulis maupun
tidak. Wahyu pertama tidak menjelaskan apa yang harus dibaca, karena
Al-Qur’an mnghendaki agar umatnya membaca apa saja selama bacaan itu
Bismirabbik , dalam arti bermanfaat untuk kemanusiaan. Iqra, bacalah,
telitilah, dalamilah, ketahuilah ciri–ciri sesuatu, bacalah alam,
bacalah tanda–tanda zaman, sejarah diri sendiri, yang tertulis dan tidak
tertulis. Alhasil objek perintah Iqra, mencakup segala sesuatu yang
dapat dijangkaunya. Pengulangan perintah membaca dalam wahyu pertama
ini, bukan sekedar menunjukkan bahwa kecakapan membaca , tidak diperoleh
kecuali mengulangi – ulangi bacaan, atau membaca hendaklah dilakukan
sampai mencapai batas yang maksimal kemampuan, tetapi juga untuk
mengisyaratkan bahwa mengulang – ulangi bacaan Bismi Rabbik ( Demi
karena Allah ) menghasilkan pengetahuan dan wawasan baru walupun yang
dibaca itu–itu saja. Itulah pesan yang terkandung Iqra’ Warabbikal Al –
Akram. ( Bacalah dan Tuhanmu Maha Pemurah. ). Selanjutnya dari wahyu
pertama Al-Qur’an diperoleh isyrat bahwa ada dua cara perolehan dan
pengembangan ilmu Pengetahuan. Allah mengajar dengan pena atau bacaan (
apa yang telah diketahui manusia sebelumnya ) dan mengajar manusia tanpa
pena ( apa yang belum di ketahui manusia ) Cara pertama adalah mengajar
dengan atau atas dasar manusia, dan cara yang kedua mengajar tanpa alat
dan tanpa usaha dari manusia. Walaupun berbeda namun keduanya bersumber
dari satu sumber yaitu Allah SWT. Setiap pengetahuan memiliki subyek
dan obyek. Secara umum subyek dituntut peranannya guna memahami obyek.
Namun pengalaman ilmiah menunjukkan bahwa obyek terkadang memperkenalkan
diri kepada subyek tanpa usaha sang subyek. Sebagai contoh, comet
halley memasuki cakrawala hanya sejenak setiap 76 tahun. Dalam kasus ini
walaupun para astronom menyiapkan diri dengan alat – alatnya untuk
mengamati dan mengenalnya, tetapi sesungguhnya yang paling berperan
adalah kehadiran komet itu memperkenalkan diri. Wahyu, ilham, intuisi,
firasat yang diperoleh manusia yang siap dan suci jiwanya atau apa yang
diduga sebagai “ kebetulan “ yang dialami oleh ilmuan yang tekun,
kesemuanya tidak lain kecuali bentuk – bentuk pengajaran Allah yang
dapat di analogikan dengan kasus komet diatas. Itulah pengajaran tanpa
kalam yang di tegaskan wahyu pertama ini. Kandungan wahyu pertama diatas
bila dirinci lebih jauh dengan merujuk ayat – ayat Al-Qur’an yang
terkait sebagai berikut. ILMU PENGETAHUAN Kata ilmu dalam berbagai
bentuknya terulang 854 kali dalam Al-Qur’an. Kata ini digunakan dalam
arti proses pencapaian pengetahuan dan obyek pengetahuan. Ilmu dari segi
bahasa mengandung arti kejelasan, karena itu segala yang terbentuk dari
akar katanya semua mempunyai ciri kejelasan. Perhatikan misalnya kata
‘alam ( Bendera ), ‘ulmat ( Bibir sumbing ), A’laam ( Gunung – gunung ),
‘alamat (Alamat ) dan sebagainya. Ilmu adalah pengetahuan yang jelas
tentang sesuatu. Kata ini berbeda dengan Arafa ( Mengetahui ), Aarif (
Yang Mengetahui ), dan Ma’rifah (Pengetahuan). Allah SWT tidak dinamai
A’rif, tetapi ‘aalim, dengan fi’ilnya Ya’lam ( Dia Mengetahui ) dan
biasanya Al-Qur’an menggunakan kata itu bagi Allah untuk hal – hal yang
diketahui-Nya walaupun hal-hal ghoib, tersembumyi, atau dirahasiakan.
Perhatikan obyek – obyek pengetahuan berikut, yang dinisbahkan kepada
Allah :Ya’lamu Maa Yusirrun ( Allah mengetahui apa yang mereka
rahasiakan ), Ya’lamu Maa fii Al’arhaam ( Allah mengetahui apa yang ada
didalam rahim ), Maa Tahmil Kullu Untsa ( apa yang di kandung oleh
betina/perempuan ), Maa Fii Anfusikum ( apa dalam dirimu ), Maa
Fissamawat Wa Maa fil Ardh ( apa yang ada di langit dan di bumi ),
Khaainat Al-‘ayun Wa MaaTukhfiy As-Shuduur ( kedipan mata dan yang
disembunyikan dalam dada )…demikian juga ilmu yang disandarkan kepada
manusia,semua mengandung makna kejelasan. Dalam pandangan Al-Qur’an,
ilmu adalah keistimewaan yang menjadikan manusia unggul atas makhluk –
makhluk lain guna menjalankan fungsi kekhalifahan. Ini tercermin dari
kisah kejadian manusia pertama yang dijelaskan Al-Qur’an dalam surah
Al-Baqarah [2]:31. Manusia menurut Al-Qur’an memiliki potensi untuk
meraih ilmu dan mengembangkannya atas izin Allah. Oleh karena itu
bertebaran ayat – ayat yang memerintahkan manusia menempuh berbagai cara
dalam rangka tersebut. Sebagaimana pula berkali – kali Al-Qur’an
menunjukan betapa tingginya kedudukan orang – orang yang berilmu
pengetahuan. Dalam pandangan Al-qur’an , seperti diisyaratkan oleh wahyu
pertama diatas. Ilmu itu terdiri dari dua macam. Ilmu yang diperolehnya
tanpa upaya manusia dan ini dinamai ilm ladunny, seperti yang
diinformasikan antara lain oleh Q.S. Al-kahfi [18]:65. Lalu mereka (
Musa dan muridnya ) bertemu dengan seorang hamba dari hamba – hamba
kami, yang telah kami anugrahkan kepadanya rahmat dari sisi kami dan
telah kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi kami. Dan ilmu yang
diperoleh atas usaha manusia dan dinamai ilm kasby. Ayat – ayat yang
menjelaskannya tentang ilmu ladunny. Pembagian ini disebabkan karena
dalam pandangan Al-Qur’an terdapat hal-hal yang “ada” tetapi tidak
diketahui melalui upaya manusia sendiri. Ada wujud yang tidak tampak,
sebagaimana ditegaskan oleh al-Qur’an antara lain dalam firman-Nya. Aku
bersumpah dengan apa yang kamu lihat dan apa –apa yang tidak kamu lihat
(Q.S. Alhaaqah. ) Dengan demikian, obyek ilmu meliputi batas – batas
materi dan non materi bahkan ada wujud yang jangankan dilihat, diketahui
oleh manusia pun tidak. Dia menciptakan apa – apa yang kamu tidak
ketahui.( Q.S. Annahal[16]:8.) Disini pula pengetahuan manusia amatlah
terbatas, karena itu wajar sekali allah menegaskan bahwa. Kamu di beri
pengetahuan melainkan sedikit (Q.S. Al-Isra’[ 17]:85). OBYEK ILMU
PENGETEHUAN DAN CARA PEROLEHANNYA Mengikuti pembagian ilmu yang disebut
diatas, secara garis besar, obyek ilmu pengetahuan dapat dibagi dalam
dua bagian pokok yaitu alam materi dan alam non materi. Sains mutakhir
mengarahkan pandangan kepada alam materi, sehingga mereka membatasi ilmu
pada bidang tersebut. Bahkan sebagian mereka tidak mengetahui adanya
realita yang tidak dapat dibuktikan dialam materi. karena itu obyek ilmu
menurut mereka hanya mencakup sains kealaman dan terapannya yang dapat
berkembang secara kualitatif dan penggandaan, variasi terbatas dan
pengalihan antara budaya. Obyek ilmu menurut ilmuan muslim mencakup alam
materi dan non materi. Sementara menurut kaum shufi melalui ayat – ayat
Al-Qur’an memperkenalkan apa yang mereka sebut Alhadharaat Al-Ilhiyah
Alkhams ( lima kehadiran Ilahi ) untuk menggambarkan hirarki keseluruhan
wujud. Kelima hal tersebut adalah : 1. Alam Naasuut (alam materi ) 2.
Alam Malakut ( alam kejiwaan ) 3. Alam Jabaruut ( alam Ruh ) 4. Alam
Lahuut (Sifat – sifat Ilahiyah ) 5. Alam Haahuut ( Wujud zat Ilahi )
Tentu ada tatacara dan “ alat-alat “ yang harus digunakan untuk meraih
pengetahuan tentang hal – hal diatas. Allah mengeluarkan kamu dari perut
ibumu tidak mengetahui sesuatu dan memberi kamu pendengaran,
penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur ( menggunakannya sesuai dengan
petunjuk Ilahi guna memperoleh pengetahuan ). Ayat ini mengisyaratkan
empat alat yaitu, pendengaran, mata dan akal ( penglihatan ) secara
hati. Trial dan error ( coba – coba ), pengamatan, eksperimen,
probability, merupakan cara – cara yang digunakan ilmuan untuk meraih
pengetahuan. Hal ini, walaupun di singgung juga oleh Al-Qur’an seperti
dalam ayat-ayat yang memerintahkan manusia untuk berfikir tentang alam
raya, melakukan perjalanan dan sebagainya. Namun itu hanya berkaitan
dengan upaya mengetahui alam materi. Perhatikanlah apa yang terdapat
dilangit dan di bumi…( Q.S. Yunus [10]:101 ). Apakah mereka tidak
memperhatikan unta bagaimana diciptakan, langit bagaimana ditinggikan,
gunung bagaimana ditancapkan, dan bumi dihamparkan ?. ( Q.S. Al –
Ghasyiyah [88]:17s/d 20 ). Apakah mereka tidak memperhatikan bumi,
berapa banyak kami tumbuhkan di bumi itu aneka tumbuhan yang baik ?. (
Q.S. Asy-syu’ara [26]: 7 ) Apakah mereka tidak melakukan perjalanan di
bumi…Q.S. Yusuf [12]: 109 ). Disamping mata, telinga dan pikiran,
sebagai alat meraih pengetahuan. Al-Qur’an juga menggaris bawahi betapa
pentingnya peranan hati dan kesuciannya. Wahyu, dianugrahkan atas
kehendak Allah semata, dan berdasarkan kebijaksanaan-Nya tanpa usaha dan
campur tangan manusia, sementara firasat, intuisi, dan semacamnya,
dapat diraih melalui penyucian hati. Disini para ilmuan Muslim
menekankan pentingnya Tazakiyah Annafes ( Penyucian jiwa ) guna
memperoleh hidayah dari Allah, karena mereka sadar akan kebenaran firman
Allah. Aku akan memalingkan orang – orang yang menyombongkan diri di
muka bumi, tanpa alasan yang benar – benar dari ayat-Ku…( Q.S. Al-‘Araaf
[7] : 147 ). Beraneka ragam dan berkali – kali pula Al-Qur’an
menegaskan bahwa Inna Allaha Laa yahdiy…( Allah tidak akan memberi
petunjuk ) kepada Azzalimiin ( orang – orang yang berlaku aniaya ),
Al-Kafiriin ( orang – orang kafir ), Alfasiqiin ( orang – orang fasik ),
Man Yudhil (yang disesatkan ), Man huwa Kaazibun Kaffar ( pembohong
lagi amat ingkar ) Musrifun Kazzab ( pemboros lagi pembohong ). Dan lain
–lain.. Memang boleh jadi mereka durhaka, memperoleh secercah ilmu
Tuhan, yang bersifat kasby, tetapi apa yang mereka peroleh itu, terbatas
pada sebagian fenomena alam, bukan hakekat , bukan pula yang berkaitan
realita diluar alam materi. Banyak manusia tidak mengetahui, mereka
hanya mengetahui yang lahir ( saja ) dari kehidupan dunia, sedang mereka
tentang akherat lalai. ( Q.S. Arrum [30] : 7 ). Para ilmuan Muslim juga
menggaris bawahi pentingnya mengamalkan ilmu. Dalam konteks ini Nabi
SAW menyatakan bahwa : siapa yang mengamalkan apa yang diketahuinya maka
Allah menganugrahkan kepadanya ilmu yang belum diketahuinya. Sementara
Ulama menunjuk kepada Q.S. Albaqarah [2] : 282 untuk memperkuat hadits
tersebut. Bertaqwalah kepada Allah, niscaya Dia mengajar kamu, Allah
Maha Mengetahui segala sesuatu. ( Q.S.Al-Baqarah [2] : 282. Atas dasar
itu, Al-qur’an memandang bahwa seseorang yang memiliki ilmu harus
memiliki sifat dan ciri tertentu, antara lain dan yang paling menonjol
adalah sifat Khas-yat ( takut dan kagum kepada Allah ), sebagaimana
ditegaskan dalam firman-Nya; Innamaa Yakhsya Allah Min ‘Ibadihi
Al-Ulama,Q.S. Fathir [35] : 28. ( yang takut kepada Allah dari
hamba-hamba-Nya adalah para Ulama.). Dalam konteks ayat ini, Ulama
adalah mereka yang memiliki pengetahuan yang jelas tentang fenomena
alam. Rasul SAW menegaskan pula bahwa : Ilmu ada dua macam, ilmu didalam
dada, itulah ilmu yang bermanfaat untuk manusia. Dan ilmu yang sekedar
diujung lidah, maka itulah yang bakal menjadi saksi yang memberatkan
manusia. MANFAAT ILMU Dari wahyu pertama juga ditemukan petunjuk tentang
pemanfaatan ilmu. Dengan Iqra’ Bismirabbika digariskan bahwa titik
tolak, atau motivasi pencarian ilmu demikian juga tujuan akhirnya karena
Allah. Syekh Abdul Halim Mahmud mantan pemimpin tertinggi Al-Azhar,
memahami demi karena Allah dalam arti untuk kemaslahatan manusia.
Bukan-kah Allah tidak butuh? Bukan-kah makhluknya yang butuh ?. Berfikir
dalam dalam bidang – bidang yang tidak menghasilkan sesuatu yang
bermanfaat , apalagi yang tidak memberikan hasil, kecuali menghabiskan
energi harus dihindari. Rasulullah seringkali berdo’a “Allahumma Inny
A’uzubika Min ‘Ilm Laa Yanfa “ ( Wahai Tuhan, Aku berlindung dengan-Mu
dari ilmu yang tidak bermanfaat )”. Atas dasar ini pula berfikir (
menggunakan akal ) untuk mengungkap rahasia alam metafisika=tidak boleh
dijelajahi. Boleh jadi menarik untuk dikemukakan bahwa ayat – ayat
Al-Qur’an yang berbicara tentang alam raya, menggunakan redaksi yang
berbeda-beda ketika merujuk kepada orang – orang atau manfaat yang
diperoleh daripadanya, walaupun obyek atau bagian dari alam raya yang
uraikannya sama. TEKNOLOGI Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, teknologi
diartikan sebagai kemampuan teknik yang berlandaskan pengetahuan ilmu
pengetahuan yang berdasarkan proses teknis. Teknologi adalah ilmu
tentang cara menerapkan sains untuk memanfatkan alam bagi kesejahteraan
dan kenyamanan manusia. Kalau demikian, mesin – mesin atau alat canggih
yang digunakan. Bukan itu yang di maksud dengan teknologi, walaupun
secara umum orang sering mengasosiasikan alat – alat canggih sebagai
teknologi. Mesin – mesin telah digunakan manusia sejak abad yang lalu,
namun abad tersebut belum dinamai era teknologi. Menelusuri pandangan
Al-Qur’an tentang teknologi, mengundang kita menengok kepada sekian
banyak ayat Al-Qur’an yang menjelaskan alam raya. Menurut para Ulama
terdapat sekitar 750 ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang alam raya dan
fenomenanya, dan memerintahkan manusia untuk mengetahui dan
memanfaatkannya. Secara tegas dan berulang – ulang, Al-Qur’an menyatakan
bahwa alam raya diciptakan dan ditundukkan Allah untuk manusia. Dia
telah menundukkan untuk kamu apa yang ada dilangit dan apa yang ada di
bumi semuanya ( sebagai anugrah ) dari-Nya ( Q.S. Al-Jatsiyah [45]:13 ).
Adanya potensi dan tersedianya lahan yang diciptakan Allah, serta
ketidakmampuan alam raya untuk membangkang perintah-Nya, kesemuanya
mengantarkan manusia berpotensi untuk memanfaatkan yang ditundukkan
Tuhan itu. Keberhasilan memanfaatkan alam itulah buah teknologi.
Al-Qur’an memuji sekelompok manusia yang dinamainya Ulul Albab. Ciri
mereka antara lain dilukiskan oleh Q.S. Al-Imran [3]: 190-195.
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya
malam dan siang terdapat tanda-tanda Ulil Albab. Yaitu mereka yang
berdzikir ( mengingat ) Allah sambil berdiri, atau duduk, atau berbaring
dan mereka yang berfikir tentang khaleq ( kejadian ) langit dan bumi…
Dalam ayat diatas tergambar dua ciri pokok, yaitu Tafakur dan Dzikir.
Kemudian keduanya menghasilkan “ Natijah”. Natijah yang dimaksud bukan
sekedar ide-ide yang tersusun dalam benak, tetapi juga melampauinya
sampai pada pengamalan dan pemanfaatannya dalam kehidupan sehari-hari.
Muhammad Quthub dan kitabnya “ Manhaj Attarbiyah Al-Islamiyah”
mengomentari ayat Al-Imran diatas sebagai berikut : “ Ayat –ayat
tersebut menggambarkan secara sempurna metoda penalaran dan pengamatan
Islami terhadap alam,.. Ayat-ayat itu mengarahkan akal manusia kepada
fungsi pertamanya diantara sekian banyak fungsinya, yakni mempelajari
ayat-ayat Tuhan yang tersaji dialam raya ini. Ayat-ayat tersebut bermula
dengan tafakkur dan berakhir dengan amal. Pengetahuan tentang hal
terakhir ini mengantar ilmuan kepada rahasia – rahasia alam, dan pada
gilirannya mengantarkan pada penciptaan teknologi yang menghsilkan
kemudahan dan manfaat bagi manusia. Disini kita menoleh kepada teknologi
dan hasil-hasil yang telah dipersembahkannya. Kalaulah untuk mudahnya
kita jadikan alat atau mesin sebagai gambaran kongkrit tentag teknologi.
Mesin- mesin dari hari ke hari semakin canggih. Mesin-mesin tersebut
dengan bantuan manusia bergabung satu dengan lainnya. Sehingga ia
semakin kompleks, ia tidak bisa lagi dikendalikan oleh seorang, namun ia
dapat melakukan pekerjaan yang dilakukan banyak orang. Dalam tahap ini,
mesin telah menjadi semacam “seteru” manusia, atau hewan yang harus
disiasati agar ia mau mengikuti kehendak manusia. Dewasa ini, lahir
teknologi, khususnya dibidang rekayasa genetika, yang dapat mengarah
untuk menjadikan alat sebagai bantuan, bahkan menciptakan bakal-bakal
alat yang akan diperbudak dan tunduk kepada alat. Tetapi jika hasil
teknologi sejak semula diduga dapat mengalihkan manusia dari asal tujuan
penciptaan, maka sejak dini Islam menolak kehadiran hasil-hasil
teknologi. Karena itu menjadi persoalan bagi martabat kemanusiaan
bagaimana memadukan kemampuan mekanik manusia untuk menciptakan
teknologi, dengan pemeliharaan nilai-nilai fitrahnya. Bagaimana
mengarahkan teknologi sehingga dapat berjalan seiring dengan nilai-nilai
Rabbany, atau dengan kata lain bagaimana memadukan antara fikir ,
dzikir, ilmu, dan iman. KESIMPULAN Manusia memliki naluri untuk selalu
haus akan ilmu pengetahuan, dua keinginan yang tidak akan pernah puas,
keinginan penuntut ilmu, keinginan dan keinginan penuntut harta. Hal ini
dapat menjadi pemicu bagi manusia untuk terus mengembangkan ilmu
pengetahuan dan teknologi dengan memanfaatkan anugrah Allah yang
dilimpahkan kepadanya. Oleh karena itu kita tidak bisa membendung laju
teknologi, kita hanya bisa dapat berusaha mengarahkan manusia agar tidak
terlalu menuruti nafsunya, mengumpulkan harta dan mengumpulkan ilmu
teknologi yang dapat membahayakan dirinya sendiri, karena manusia dapat
menjadi seperti kepompong, membahayakan dirinya sendiri akibat
kepandainnya. Al-Qur’an menegaskan bahwa : Sesungguhnya perumpamaan
kehidupan duniawi itu, adalah seperti hujan yang Kami turunkan dari
langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya=karena air itu= tanam – tanaman
bumi, diantaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak, hingga
apabila bumi ini telah sempurna keindahannya dan penghuni penghuninya
telah menduga bahwa mereka mampu menguasainya, ( melakukan segala
sesuatu ) tiba – tiba datanglah azab Kami laksana tanam – tanaman yang
sudah sabit, seakan – akan belum tumbuh kemarin. Demikianlah kami
menjelaskan tanda – tanda kekuasaan ( kami ) kepada orang – orang yang
berfikir.Share this:
Langganan:
Postingan (Atom)

